Background History
TerminalMusik.com sebagai wadah independen, didirikan atas dasar penentangan terhadap faktor-faktor berikut:
Industri Bajakan
Pembajakan hasil karya musik di Indonesia telah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun. Selama itu pula tidak ada satupun dasar hukum yang mampu memberantas praktek pembajakan di Indonesia. Hal ini telah menciptakan ruang yang sangat kondusif bagi satu bisnis ilegal yang terorganisir. Bukankah terkesan ‘merestui’ daripada ‘memerangi’ jika sudah puluhan tahun berlangsung? atau mungkin karena bisnis ilegal ini juga menyumbangkan devisa bagi ‘negara’?
Kami tidak akan panjang lebar disini, singkatnya “selama musik masih bisa didengar melalui speaker, praktek pembajakan akan terus berlangsung”. Jadi percuma saja teknologi enkripsi dan tetek bengek lainnya dikembangkan dengan tujuan memprotect hasil karya musik, tidak akan ada gunanya di Indonesia.
Oleh karena itu TerminalMusik.com menghadirkan solusi bagi musisi/artis yang ingin menyalurkan karyanya tanpa harus dirugikan dengan hal2x tersebut. Jika diibaratkan dengan tukang bakso
Buat sendiri, Jual sendiri! Anda senang kami Bahagia.. :)
Dilema Recording Company
Tahukah anda berapa biaya yang dikeluarkan untuk satu album artis baru oleh Recording Company? Secara pasti kami tidak bisa menjawabnya karena nilainya bervariasi. Tapi secara kasar bisa kita bayangkan melalui prosesnya:
- Recording Production (Produksi Rekaman)
Jika rata-rata 1 lagu biaya produksinya adalah 8-10 juta dari proses lagu-recording-mixing-mastering, 1 Album adalah 100 juta diambil dari nilai terbesar.
Namun nilai ini bisa kurang atau lebih, tergantung siapa komposernya, siapa artisnya, dimana recordingnya, dll. - Produksi Fisik
Yang dimaksud dengan Fisik adalah Kaset & CD. Untuk data lengkapnya tidak dapat kami kemukakan tapi anda mungkin bisa mereka-reka sendiri berapa minimal jumlahnya dikalikan dengan harga. - Promosi
Advertising Campaign ideal yang sering dipergunakan Recording Company adalah TV, Surat Kabar, Majalah, Radio, Billboard, sinetron, dll. Porsi terbesar adalah TV dan Radio jika menggunakan keduanya, yang lain bisa diperlakukan sebagai bargain ad.
Promosi bisa mencapai 500%-700% dari proses produksi, nilainya pun relatif. - Supporting Management
Adalah sektor-sektor yang mensupport album tersebut seperti, Artis Management, Radio Management, distribusi, ekspedisi, dll.
Yang kami maksud disini adalah jika untuk 1 Album Recording Company mengeluarkan biaya 500-800 juta, berapa albumkah yang sanggup dikeluarkan oleh Recording Company tersebut dalam 1 tahun?
5? 10? 15? 20? 20 adalah angka yang sangat fantastis menurut kami. Jika di Indonesia ada 10 Recording Company yang mengeluarkan 15 album tiap tahunnya, berarti kita dapatkan 150 album.
Sekarang bandingkan hanya dengan peserta L.A Light Indie Fest 2008 yang mencapai ribuan kontestan, sampai berapa lama mereka harus berjuang untuk mendapatkan ‘tiket rekaman’? sampai umur 35? 40?
Belum lagi faktor materi yang ‘kurang jualan’, skeptis sekali penilaian 10 Label Recording tersebut dibanding dengan penilaian jutaan masyarakat penikmat musik di Indonesia!
Emangnya musik cuma Pop dan Dangdut saja? Bagaimana dengan Jazz, Klasik, Keroncong, Nasyid, Lagu Anak, Country, Blues, dll.?
Bagaimana juga dengan ‘musisi tua’ yang sudah tidak bisa ‘dijual’ lagi? Apakah tidak ada lagi tempat untuk tetap berkarya?
Terlebih lagi, apakah anda 100% percaya dengan sistem pembagian royalti yang diterapkan Recording Company anda? Jika ya syukurlah.. Soalnya kok gak ada artis top di Indonesia yang jadi multi milyuner seperti di luar negri itu loh?
Mungkin juga gak sih kalau Recording Company menjual lewat bajakan? Ya gak tau juga sih.. tapi baru keluar sehari albumnya udah bisa ditemukan di lapak2x bajakan.. gak pake bayar pajak lagi..
TerminalMusik.com dengan standard-nya memberikan kesempatan yang lebih luas kepada para musisi/artis untuk bebas berkarya.
Penjualan Fisik (CD & Cassette)
Seiring kemajuan teknologi informasi, media untuk menyalurkan informasi musik semakin murah terjangkau dan canggih. media seperti Komputer, Recordable CD, Handphone, MP3 Player, menyebabkan transfer data musik menjadi sangat mudah. Ini artinya akan menjadi sangat susah memonitor penjualan fisik dari satu lagu dari artis tertentu, ‘tidak mungkin’ adalah kata yang lebih tepat.
Hal ini dibuktikan dengan statistik penjualan fisik (CD & Cassette) di setiap Recording Company, bukan hanya di Indonesia, Seluruh dunia merasakannya. Amerika contohnya, Apple telah lebih dulu dengan i-Tune storenya menjual content musik dengan konsep digital transfer, konsumen bisa membeli 1 lagu yang disukainya.
Hal ini lagi-lagi tidak akan bisa dilakukan di Indonesia ‘tercinta’ ini karena faktor-faktor masih suburnya industri bajakan dan budaya Internet Payment yang primitif, disamping rendahnya Apresiasi terhadap karya seseorang.
Jadi buat apalagi ‘Titip Edar’ ke Recording Company jika kita sudah tahu tidak menguntungkan? Lebih baik jika anda mempunyai budget untuk itu, promosikan diri anda sendiri dengan cara anda sendiri.
Ringback Tone
RBT atau Ring Back Tone untuk sementara menjadi solusi bagi penjualan content musik karena masih menjadi media yang tidak dapat dibajak. Peran ‘Provider’ dan ‘Content Provider’ menjadi sangat signifikan dalam industri musik sebagai penyelenggara RBT. Namun demikian gejala2x eksploitasi secara tidak transparan tak lepas dari media ini. Pihak CP tidak bisa memberikan akses ‘real time checking’ kepada artis/musisi sebagai kliennya, hanya dapat memberikan laporan secara sepihak.
Mungkin kesalahan bukan juga terletak pada pihak CP, tetapi antara Provider dan CP terdapat pula pihak Penyedia System RBT-nya. Entah pihak mana yg bertanggung-jawab, yang jelas telah membodohi publik.
Namun karena artis/musisi menganggap RBT adalah salah satu faktor nilai tambah sebagai income, kebanyakan mereka tetap menandatangani kontrak dengan penyelanggara RBT tersebut walaupun sadar bahwa mereka sekali lagi telah dieksploitasi secara sepihak.
Ibarat keluar kandang Macan, masuk kandang Serigala, content musik di Indonesia selalu berhadapan dengan pihak2x yang hanya mengambil keuntungan sebesar-besarnya dengan cara-cara yang tidak transparan.
Oleh karena faktor-faktor tersebut diatas, konsep TerminalMusik.com
- Menggratiskan saja karya-karya kami dengan tujuan meminimalisir oknum-oknum yang mengambil keuntungan secara berlebihan dari eksploitasi karya-karya yang kami buat.
- Melepaskan diri dari perangkap ’selera pasar’ yang diciptakan oleh Recording Company, tidak membatasi selera bermusik dari musisi/artis demi kebebasan berekspresi.
- Mempercepat proses kreasi, tidak bergantung kepada Recording Company untuk bisa mencapai pendengar.
- Bersama-sama artis & TerminalMusik.com berusaha mempublikasikan eksistensi diri & komunitas musik ini dengan cara-cara yang paling dianggap efektif sesuai kemampuan masing-masing.